Pendapat Ahok Tentang Kerugian Pertamina

Pendapat Ahok Tentang Kerugian Pertamina

Pendapat Ahok Tentang Kerugian Pertamina – PT Pertamina (Persero) menderita kerugian spaceman selama semester I-2020. Besarannya mencapai US$ 767,92 juta atau setara Rp 11,13 triliun (kurs Rp 14.500/US$). Pertama cashflow Pertamina turun tajam akibat penjualan yang menurun drastis. Pada Desember 2019 penjualan Pertamina mencapai 7,8 ribu KL, kemudian berangsur turun di Januari 2020 7,5 ribu KL, Februari 2020 7,1 ribu KL, Maret 2020 7 ribu KL, April 2020 6 ribu KL, Mei 2020 6,21 ribu KL dan Juni 2020 6,64 ribu KL. Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sedang jadi sorotan. Ahok baru saja buka-bukaan soal bobrok perseroan dalam sebuah video yang diunggah akun YouTube POIN.

Ahok membeberkan banyak hal salah satunya mengenai posisinya sebagai komisaris utama. Menurutnya sebagai komisaris dirinya bukan cuma jadi pengawas tapi juga eksekutor. “Saya ini eksekutor, bukan pengawas sebenarnya. Komisaris di BUMN itu, sebetulnya itu ibarat neraka lewat, surga belum masuk,” ungkap Ahok. Mengutip laporan keuangan Pertamina paling baru, pada semester I-2020 Pertamina harus mengalami kerugian. Total kerugian per 30 Juni 2020 sebesar US$ 767,92 juta atau sekitar Rp 11,3 triliun (dalam kurs Rp 14.800). Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama di 2019. Kala itu, perusahaan pelat merah ini masih membukukan laba sebesar US$ 659,96 juta atau setara Rp 9,7 triliun. .Menurunnya kinerja Pertamina tak lepas dari penjualan yang turun 19,84% menjadi US$ 20,48 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan Pertamina tercatat US$ 25,55 miliar.

Penyebab Pertamina Bisa Untung Setelah Merugi

PT Pertamina (Persero) berhasil balik keadaan dari buntung jadi untung. Di semester I-2021 ini BUMN minyak dan gas itu mencatatkan laba bersih US$ 183 juta atau setara Rp 2,6 triliun, setelah periode yang sama tahun lalu rugi US$ 768 juta. Pjs Senior Vice President Corporate Communications and Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan pihaknya berhasil meningkatkan laba sebesar US$ 951 juta atau setara Rp 13,6 triliun. Kinerja positif itu salah satunya didorong dari pertumbuhan sisi penjualan yang mencapai US$ 25 miliar dan EBITDA US$ 3,3 miliar. Meski begitu, dampak pandemi diakui masih sangat dirasakan Pertamina sepanjang 2021 ini. Fluktuasi harga minyak mentah sangat berpengaruh pada kinerja perseroan, Indonesia Crude Price (ICP) meningkat hampir 2 kali lipat dari US$ 36,5 per Juni 2020 dibanding US$ 70,06 per Juni 2023

Peningkatan pendapatan dan laba dari sektor hulu produksi hulu migas Pertamina mencapai target 850 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD). Dengan kenaikan ICP serta efisiensi pada biaya pengembangan dan biaya produksi, sektor hulu mencatat pendapatan dan laba di atas target. Peningkatan volume penjualan BBM dari sisi penjualan di hilir, permintaan BBM berangsur pulih walaupun masih lebih rendah dari kondisi normal sebelum pandemi COVID-19. Sampai Juni 2021, demand BBM rata-rata tercatat 126.000 kilo liter (KL) per hari, atau meningkat sekitar 8% dari Juni 2020 yang sekitar 116.000 KL per hari. Angka itu masih lebih rendah sekitar 6% dari demand normal sebelum pandemi di 2019. Upaya revenue enhancement sebagai tambahan menopang pendapatan perusahaan, tutur Fajriyah, Pertamina mendorong seluruh Subholding dan anak usaha memperkuat kinerja operasional, di antaranya melalui :

– peningkatan produksi dan lifting serta peningkatan monetisasi gas di seluruh Wilayah Kerja (WK) sektor Hulu Migas termasuk akselerasi rencana kerja yang agresif dan masif di WK Rokan yang per 9 Agustus 2021 telah dikelola oleh Pertamina.
– optimasi produksi di kilang dengan produk bernilai tinggi dan togel macau meningkatkan penjualan produk kilang dan petrokimia baik di dalam negeri maupun ekspor ke pasar luar negeri.
– akselerasi pembangunan PLTS baik di lingkungan Pertamina maupun pasar eksternal serta memperkuat ekosistem baterai melalui aktivasi swapping & charging EV Battery di SPKLU yang terintegrasi dengan SPBU.
– akselerasi komersial LNG dan optimalisasi infrastruktur Arun sebagai pusat distribusi di kawasan Asia.
– Peluang tambahan revenue atas penyewaan kapal dan jasa logistik ke eksternal Pertamina untuk cargo LPG, BBM serta Petrokimia.

Sedangkan untuk program efisiensi, Pertamina dengan serius berkomitmen melakukan berbagai optimalisasi, di antaranya melalui :

– Reformasi pola operasi supply chain crude, BBM dan LPG.
– Regionalisasi di Subholding Upstream dari tahap perencanaan sampai eksekusi untuk optimasi sharing resources.
– Fleksibilitas pengadaan crude untuk meningkatkan Gross Refining Margin.
– Preventive maintenance di seluruh Kilang.
– Sentralisasi Procurement.
– Penurunan losses dengan menerapkan digitalisasi.
– Implementasi new ways of working (agile working).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *